digital banking solution

Perkembangan sektor perbankan di tanah air saat ini sedang dipengaruhi oleh munculnya berbagai  bank digital, orang menyebutnya sebagai digital banking solution atau bank pionir, yaitu PT Bank Jago Tbk. (ARTO). Namun, ternyata bank digital lebih dari sekadar bank yang dapat melayani nasabah melalui aplikasi atau layanan seperti mobile banking  yang terpasang di smartphone. Seorang ekonom Piter Abdullah Redjalam dari CORE Indonesia dalam acara Jago Bootcamp di Canggu, Bali, Kamis (28 Oktober 2021) mengatakan mobile banking merupakan layanan perbankan pada aplikasi yang diinstal pada smartphone nasabah. Nasabah juga dapat mengelola rekening bank dan merencanakan keuangan sepenuhnya dengan  smartphone. Dia juga mengatakan Digital banking bukan hanya tentang mobile banking.

Perbankan digital dapat didefinisikan sebagai semua transaksi perbankan online  yang dilakukan menggunakan perangkat digital. Perbankan digital merupakan platform end-to-end. Sebagai platform end-to-end, digital banking terdiri dari front-end yang dilihat oleh nasabah, back-end yang dilihat oleh bankir melalui dashboard server dan  admin mereka, dan yang terakhir middleware yang sama yang menghubungkan front-end. dan bagian depan. Sebagai informasi lebih lanjut, middleware adalah perangkat lunak yang menghubungkan sistem operasi atau database dengan berbagai aplikasi yang digunakan oleh nasabah. Bank digital adalah bank yang mendukung semua fungsi perbankan dalam layanan platform digital.

digital banking solution

Bank digital juga memiliki semua fungsi kantor pusat, cabang, termasuk di dalamnya layanan online seperti kartu bank, ATM, dan mesin penjual otomatis. Sementara itu, OJK mengatur perbankan digital dalam POJK #12 2021 Pasal 23 sampai dengan 31. OJK mendefinisikan bank digital sebagai bank Badan Hukum Indonesia (BHI) yang menyediakan dan melaksanakan kegiatan usaha terutama melalui jalur sistem elektronik tanpa memiliki kantor fisik selain kantor pusat. Ia memiliki kapasitas untuk menjalankan model bisnis perbankan digital yang berkelanjutan dan prudent, memiliki kapasitas untuk mengelola risiko dan juga dapat melengkapi aspek tata kelola, termasuk penerapan direksi dengan keterampilan TI dan keterampilan lain yang ditentukan oleh OJK. Bank digital juga mampu untuk melindungi keamanan data nasabah.

Para ekonom juga meyakini semua bank akan berubah menjadi bank digital pada waktunya. Begitu ada bank, itu adalah bank digital. Sementara itu, Business Development Advisor  Bursa Efek Indonesia Poltak Hotradero mengatakan sejumlah bank digital  luar negeri  memiliki nasabah  besar, antara lain Kakao Bank  Korea  dengan 13 juta nasabah dan NuBank di Brazil dengan 30 juta nasabah. Kakao Bank bahkan  mampu menjaring 1 juta nasabah hanya dalam waktu 5 hari sejak diluncurkan pada 3 April 2017.

Bank digital ini sangat bergantung pada teknologi mulai dari proses transaksi, keamanan, pencatatan data dan lain sebagainya. Oleh sebab itu diperlukan sebuah tempat khusus yang di dalamnya terdapat server, data bank, kabel listrik, dan perlengkapan lainnya yang digunakan untuk mendukung semua kebutuhan transaksi bank digital.

By Welly