Kegiatan hulu migas lebih-lebih terhadap bagian produksi/pengangkatan minyak bumi berasal dari didalam sumur umumnya bakal membuahkan gas ikutan (associated gas atau flaring gas) yang turut terlarut terhadap minya bumi (crude oil). Kebanyakan berasal dari gas ikutan selanjutnya tidak dimanfaatkan atau diolah lebih lanjut, sehingga ketika pengolahan minyak bumi dilaksanakan, gas ikutan ini dibakar melalui gas flare dan sesudah itu dibuang ke udara.

Semua kilang minyak (oil refinery) sudah pasti punya gas flare untuk menangani gas ikutan ini. Tujuan berasal dari pembakaran selanjutnya yaitu sehingga tidak mengundang bahaya terhadap lingkungan sekitar, dikarenakan bila tidak dibakar lebih-lebih dahulu maka gas ikutan ini bakal turut bercampur dengan udara dan sudah pasti sangat berbahaya bagi makhluk hidup.

Gas Ikutan (Associated Gas)

Gas ikutan yang terakumulasi di didalam minyak mentah disebabkan oleh 2 dua hal, pertama yaitu gas yang turut larut ke didalam minyak mentah melalui suatu formasi, dan juga gas ikutan telah mengalami penjenuhan terhadap area penampungan penyimpanan minyak sehingga tekanan dan temperatur gas berada di bawah batas maksimum.

Karena tekanan inilah sehingga memicu gas terdorong ke atas. Perlu juga diketahui bahwa terkandung suasana tententu dimana hidrokarbon terhadap gas ikutan bakal mengalami pergantian bentuk menjadi gas maupun minyak, dan juga dapat juga mengalami pengembunan.

Sumur minyak yang mengandung gas ikutan (associated gas), sesungguhnya telah berlangsung pemisahan secara alami antara ke-2 zat selanjutnya dikarenakan tidak sama berat jenis. Ketika sistem memproses migas, terkandung hal penting yang wajib diperhatikan yaitu merawat tekanan reservoir.

Selain itu, tekanan berasal dari hydrokarbon sebaiknya tetap berada terhadap tekanan maksimum yaitu antara 20% hingga 35%. Tahap memproses ini umumnya pakai mesin sistem untuk penyulingan gas ikutan. Pressure atau tekanan gas ikutan dapat dimanfaatkan bila tekanan berasal dari didalam reservoir mengalami penurunan, dan juga dapat juga dimanfaatkan untuk sistem penyaringan.

Namun masalahnya, ketika dikerjakan penyulingan gas ikutan dengan Flow Meter Tokico 2 Inch, mungkin bakal berdampak tidak baik terhadap aliran minyak mentah dan juga bakal berpengaruh terhadap sistem produksi. Kebanyakan perusahaan-perusahaan migas enggan untuk memproses langsung menyak mentah tanpa penghilangan gas ikutan, alasannya ialah ketika gas ikutan diolah maka dapat mempengaruhi mutu minyak, dan juga biaya operasional juga bakal turut meningkat.

Setiap harinya, beragam negara produsen migas turut dan juga mengeluarkan gas ikutan dengan jumlah antara 10 hingga 25 Bcf (Billion cubic feet).

Tercatat hanya dua negara yaitu Rusia dan Amerika Serikat yang mengeluarkan gas ikutan melebihi jumlah tersebut. Khusus untuk negara-negara di Eropa Barat, gas ikutan yang dibuang langsung ke udara jauh melebihi jumlah pemanfaatannya. Keadaan ini juga tidak jauh tidak sama di negara lain. Berbeda halnya dengan minyak bumi, jumlah yang diproduksi sangat berimbang dengan jumlah penggunaanya.

Emisi karbon monoksida yang dikeluarkan oleh gas membuang diperkirakan meraih 1 hingga 4% berasal dari total emisi di udara, tidak cuman emisi karbon monoksida, terkandung juga methane dan nitrous oxide.

Umumya emisi selanjutnya sangat mengganggu penduduk di area pembuangan, lebih-lebih pengaruh buruknya terhadap tanaman dan hewan.

Hasil pembakaran gas membuang yang dibakar di udara bakal mengeluarkan udara panas, kilatan sinar dan nada gaduh. Dampak tidak baik berasal dari sisa gas ikutan terhadap lingkungan mungkin tidak bakal dirasakan secara langsung, namun beberapa tahun kedepan pasti bakal dirasakan akibat-akibat berasal dari pembuangannya.

 

Proses Ekstraksi Gas Ikutan Menjadi LPG (Liquified Petroleum Gas)

LPG ( Liquified Petroleum Gas) atau di Indonesia kerap juga disebut elpiji adalah gas yang terdiri berasal dari beragam unsur hydrocarbon berasal dari gas alam diproses lebih lanjut di kilang minyak bumi (refining crude oil) sehingga membuahkan product LPG. Selain itu, LPG juga dapat dihasilkan berasal dari sistem extraksi gas ikutan berasal dari lapangan minyak (crude oil field).

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa gas ikutan bila dibuang langsung ke udara maka bakal mengundang pengaruh tidak baik terhadap lingkungan. Untuk menjauhi pembuangan gas ikutan tersebut, maka beberapa perusahaan minyak telah menerapkan merode pengolahan gas ikutan menjadi LPG fungsi meminimalkan tejadinya pencemaran udara.

Namun wajib kita ketahui bahwa penggunaan gas ikutan untuk diolah menjadi LPG tetap tergolong minim, hal selanjutnya disebabkan oleh ketersediaan peralatan pengolahan dan tingginya biaya produksi, sehingga tidak seluruh kilang minyak punya unit untuk memproses (ektraksi) gas ikutan menjadi product LPG.

Tahap ektraksi gas ikutan di LPG plant di awali berasal dari pengaliran gas ikutan berasal dari sumur melalui jalan pipa (pipeline) sesudah itu ditampung di stasiun pengumpul (gathering station) terhadap fasilitas memproses minyak (production facilities).

Gas ikutan seterusnya bakal diolah dengan mekanisme sistem pendinginan pakai beberapa komponen sistem yang terdiri berasal dari cooling and separation unit, booster compressor, unit ekstraksi liquid (liquid extraction unit), refrigerant re-circulating system, hot oil circulation system, fuel gas system, glycol circulation system, LPG storage and unloading facilities, dan electric power generation.

Alur sistem terhadap LPG plant didalam mengolah/mengekstraksi gas ikutan (flaring gas) layaknya terhadap gambar di atas adalah sebagai berikut:

Bahan baku (feedstock) yang berupa gas diperoleh berasal dari lokasi lapangan minyak trasportasikan melalui pipa atau pakai kapal ke LPG plant dan seterusnya bakal diproses. Dari LPG plant selanjutnya bakal membuahkan product berupa LPG, lean gas dan condensate.

Sumber kekuatan yang digunakan didalam memproses dan juga mengangkut gas ikutan yaitu pembangkit listrik (power plant) yang pakai lean gas (hasil proses).

Produk LPG berbahan baku gas ikutan banyak dimanfaatkan sebagai bahan bakar rumah tangga maupun untuk keperluan industri. Tentunya kita berharap sehingga penggunaan gas ikutan menjadi product bahan bakar layaknya LPG lebih ditingkatkan kembali demi menjauhi pencemaran lingkungan akibat emisi gas membuang berasal dari flare gas.

Selain itu, dengan penggunaan gas membuang sebagai bakar maka bakal meningkatkan jumlah sumber kekuatan energi, dan sudah pasti menghemat jumlah cadangan minyak bumi dikarenakan beberapa besar bahan bakar yang digunakan kala ini berbahan dasar minyak bumi.

By toha